Literasi keuangan menjadi keterampilan penting bagi mahasiswa di Indonesia. Masa kuliah sering kali menjadi periode pertama seseorang mengelola keuangan secara mandiri, terpisah dari orang tua. Kemampuan mengatur pemasukan dan pengeluaran sangat menentukan kualitas hidup mahasiswa, baik dari segi akademik maupun kesejahteraan pribadi.
Kehidupan di kos menjadi tempat utama mahasiswa belajar literasi keuangan. Mahasiswa harus mengatur uang untuk kebutuhan makan, transportasi, biaya kos, pulsa atau internet, serta kebutuhan akademik. Tanpa perencanaan yang baik, uang bulanan dapat habis sebelum waktunya. Dari pengalaman ini, mahasiswa belajar menyusun anggaran sederhana dan membedakan kebutuhan dengan keinginan.
Organisasi kemahasiswaan juga berperan dalam pembentukan literasi keuangan. Mahasiswa yang terlibat sebagai bendahara atau panitia kegiatan belajar menyusun anggaran, mencatat pemasukan dan pengeluaran, serta membuat laporan keuangan. Pengalaman ini melatih tanggung jawab dan transparansi, yang sangat berguna di dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat.
Pergaulan mahasiswa turut memengaruhi pola pengelolaan keuangan. Lingkungan pertemanan yang konsumtif dapat mendorong pengeluaran berlebihan, seperti sering nongkrong atau membeli barang yang tidak mendesak. Sebaliknya, pergaulan yang saling mengingatkan pentingnya menabung dan hidup sederhana membantu mahasiswa lebih bijak dalam menggunakan uang.
Kehidupan di kota sering kali menuntut biaya hidup yang lebih tinggi. Harga makanan, transportasi, dan hiburan di kota besar relatif mahal dibandingkan daerah. Mahasiswa perlu memiliki strategi, seperti memasak sendiri, menggunakan transportasi umum, atau memanfaatkan fasilitas kampus untuk menekan pengeluaran. Kemampuan beradaptasi ini menjadi bagian penting dari literasi keuangan.
Kesehatan mental mahasiswa juga berkaitan dengan kondisi keuangan. Masalah keuangan dapat menimbulkan stres, kecemasan, dan mengganggu konsentrasi belajar. Dengan pengelolaan keuangan yang lebih terencana, mahasiswa dapat merasa lebih tenang dan fokus pada kegiatan akademik maupun pengembangan diri.
Peran dosen dan kampus penting dalam meningkatkan literasi keuangan mahasiswa. Melalui seminar, pelatihan, atau mata kuliah kewirausahaan, kampus dapat memberikan pemahaman dasar tentang pengelolaan keuangan, investasi, dan perencanaan masa depan. Dosen juga dapat menanamkan nilai hidup sederhana dan bertanggung jawab.
Ragam program studi memiliki pendekatan yang berbeda terhadap literasi keuangan. Mahasiswa ekonomi dan akuntansi mempelajarinya secara teoritis dan praktis, sementara mahasiswa prodi lain mempelajarinya melalui pengalaman sehari-hari. Namun, pada dasarnya, literasi keuangan dibutuhkan oleh semua mahasiswa tanpa terkecuali.
Secara umum, universitas di Indonesia merupakan tempat strategis untuk membangun kesadaran literasi keuangan. Mahasiswa yang mampu mengelola keuangan sejak dini akan lebih siap menghadapi tantangan kehidupan setelah lulus, baik sebagai pekerja maupun wirausaha.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.
Belum ada komentar, jadilah yang pertama mengomentari artikel ini