Skripsi sering dianggap sebagai puncak sekaligus ujian terberat dalam perjalanan mahasiswa. Pada fase ini, suasana kampus terasa berbeda. Jadwal kuliah mulai berkurang, tetapi beban mental justru meningkat. Mahasiswa berada di antara keinginan untuk segera lulus dan tekanan akademik yang semakin nyata.
Proses skripsi menuntut kemandirian yang tinggi. Mahasiswa harus menentukan topik, menyusun kerangka berpikir, mengumpulkan data, hingga menulis secara sistematis. Tidak ada jadwal kelas yang terstruktur seperti sebelumnya. Segala kemajuan sangat bergantung pada disiplin dan motivasi diri.
Hubungan dengan dosen pembimbing menjadi faktor penting. Bimbingan yang lancar dapat mempercepat proses, sementara kendala komunikasi sering menimbulkan frustrasi. Mahasiswa belajar bersabar, mengatur ekspektasi, dan menerima kritik yang terkadang terasa berat secara emosional.
Tekanan kelulusan tidak hanya datang dari kampus. Keluarga sering menanyakan progres skripsi dan rencana setelah lulus. Pertanyaan sederhana seperti “kapan sidang?” dapat memicu kecemasan. Mahasiswa merasa berada dalam perlombaan waktu yang tidak terlihat tetapi sangat menekan.
Di sisi lain, skripsi juga membawa rasa kesepian. Tidak ada lagi rutinitas kelas dan interaksi harian seperti sebelumnya. Banyak mahasiswa menghabiskan waktu sendiri di perpustakaan, kamar kos, atau kafe. Kesunyian ini memaksa mahasiswa berhadapan langsung dengan pikirannya sendiri.
Keraguan sering muncul di tengah proses. Mahasiswa mempertanyakan kemampuan diri, relevansi topik, bahkan pilihan jurusan. Rasa takut gagal atau tidak lulus tepat waktu menjadi bayangan yang terus mengikuti. Kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan mental jika tidak dikelola dengan baik.
Namun, fase skripsi juga mengajarkan ketahanan. Mahasiswa belajar bahwa kemajuan kecil tetap berarti. Menyelesaikan satu bab, satu revisi, atau satu sesi bimbingan adalah pencapaian yang patut dihargai. Dari sini tumbuh rasa percaya diri yang perlahan.
Dukungan sosial menjadi sangat penting. Teman seperjuangan, komunitas skripsi, atau obrolan ringan dengan sesama mahasiswa akhir sering menjadi penyelamat. Berbagi cerita membuat mahasiswa sadar bahwa mereka tidak sendirian menghadapi tekanan ini.
Pada akhirnya, skripsi bukan hanya tentang karya tulis ilmiah. Ia adalah proses pembelajaran tentang ketekunan, manajemen emosi, dan tanggung jawab. Kelulusan menjadi simbol akhir dari satu fase, tetapi juga awal dari perjalanan baru. Dari tekanan skripsi, mahasiswa keluar dengan kedewasaan yang tidak tertulis di transkrip nilai.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.