Kampus sering digambarkan sebagai ruang yang ramai dan penuh interaksi. Gedung perkuliahan, organisasi mahasiswa, dan berbagai kegiatan membuat kehidupan kampus tampak hidup. Namun di balik keramaian itu, tidak sedikit mahasiswa Indonesia yang justru bergulat dengan rasa kesepian yang mendalam.
Kesepian tidak selalu berarti sendirian secara fisik. Banyak mahasiswa memiliki teman, mengikuti kelas, dan terlibat aktivitas, tetapi tetap merasa kosong secara emosional. Perasaan ini sering muncul ketika hubungan yang dijalani terasa dangkal atau tidak memberi ruang untuk menjadi diri sendiri.
Mahasiswa baru menjadi kelompok yang rentan. Transisi dari lingkungan sekolah ke perguruan tinggi membawa perubahan besar. Lingkar pertemanan lama terputus, sementara relasi baru belum tentu langsung terbentuk. Adaptasi yang tidak mudah membuat sebagian mahasiswa merasa terasing di lingkungan baru.
Mahasiswa perantau juga menghadapi kesepian dengan cara berbeda. Jauh dari keluarga dan budaya asal, mereka harus membangun kehidupan dari awal. Meski terlihat mandiri, rindu rumah dan keterasingan sering muncul, terutama saat menghadapi masalah tanpa dukungan langsung dari orang terdekat.
Media sosial memperumit situasi. Di satu sisi, ia menjadi sarana koneksi. Di sisi lain, ia menciptakan ilusi kebersamaan. Melihat unggahan teman yang tampak bahagia dapat memperparah perasaan kesepian. Mahasiswa merasa tertinggal atau tidak cukup berarti, meski kenyataannya setiap orang memiliki pergulatan sendiri.
Kesepian juga berkaitan dengan tekanan akademik. Ketika fokus utama adalah tugas dan nilai, relasi sosial sering terpinggirkan. Mahasiswa yang sibuk mengejar target merasa tidak punya waktu membangun kedekatan emosional. Lambat laun, rutinitas menjadi mekanis dan hampa.
Sayangnya, kesepian masih dianggap tabu. Mahasiswa enggan mengakuinya karena takut dianggap lemah atau tidak mampu beradaptasi. Padahal, kesepian adalah pengalaman manusiawi yang wajar, terutama dalam fase transisi seperti masa kuliah.
Sebagian mahasiswa menemukan cara mengelola kesepian. Ada yang menulis, membaca, atau menemukan kenyamanan dalam rutinitas sederhana. Ada pula yang memberanikan diri mencari bantuan melalui konseling atau berbagi dengan teman terpercaya. Langkah kecil ini membantu membangun kembali rasa keterhubungan.
Lingkungan kampus memiliki peran penting dalam isu ini. Ruang aman untuk berbagi, komunitas inklusif, dan budaya saling peduli dapat mengurangi rasa keterasingan. Ketika kampus tidak hanya mengejar prestasi, tetapi juga kesejahteraan emosional, mahasiswa merasa lebih diakui.
Kesepian juga bisa menjadi ruang refleksi. Dalam kesunyian, mahasiswa belajar mengenal diri, memahami kebutuhan emosional, dan menata ulang prioritas. Meski tidak nyaman, pengalaman ini sering membawa kedewasaan emosional yang mendalam.
Pada akhirnya, kesepian di bangku kuliah bukan tanda kegagalan bersosialisasi. Ia adalah bagian dari perjalanan mengenal diri dan dunia. Ketika mahasiswa mampu menghadapi kesepian dengan jujur dan terbuka, mereka menemukan kekuatan untuk membangun hubungan yang lebih bermakna.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.
Belum ada komentar, jadilah yang pertama mengomentari artikel ini