Waktu menjadi komoditas paling berharga dalam kehidupan mahasiswa. Di atas kertas, jadwal kuliah mungkin hanya beberapa jam sehari. Namun, di balik itu tersimpan ritme hidup yang padat oleh tugas, organisasi, pekerjaan sampingan, hingga tuntutan sosial. Mahasiswa dituntut mampu mengelola waktu secara mandiri—sebuah keterampilan yang tidak selalu diajarkan secara formal.
Banyak mahasiswa Indonesia hidup dalam siklus deadline. Tugas diberikan, ditunda, lalu dikerjakan mendekati batas waktu. Budaya “sistem kebut semalam” atau SKS masih menjadi fenomena umum. Menunda bukan semata karena malas, tetapi sering kali karena kelelahan mental, prioritas yang bertabrakan, atau ketidakmampuan menentukan mana yang paling penting.
Di sisi lain, muncul tren mahasiswa yang sangat sadar produktivitas. Mereka menggunakan aplikasi manajemen waktu, to-do list digital, hingga teknik seperti time blocking atau Pomodoro. Produktivitas menjadi identitas baru, bahkan terkadang berubah menjadi tekanan tersendiri. Ketika tidak produktif, mahasiswa justru merasa bersalah, seolah waktu luang adalah kegagalan.
Kehidupan kos turut memengaruhi ritme waktu mahasiswa. Tinggal jauh dari keluarga memberi kebebasan, tetapi juga tanggung jawab penuh atas jadwal hidup sendiri. Tidak ada yang membangunkan pagi, mengingatkan makan, atau mengatur jam tidur. Mahasiswa harus belajar dari kesalahan, seperti begadang berlebihan atau melewatkan kelas karena manajemen waktu yang buruk.
Organisasi dan kepanitiaan kampus sering menjadi ujian nyata pengelolaan waktu. Rapat malam, agenda mendadak, dan tuntutan kerja tim membuat jadwal akademik kerap terpinggirkan. Mahasiswa yang aktif organisasi belajar bernegosiasi dengan waktu, mengorbankan satu hal demi hal lain. Dari sinilah muncul kemampuan multitasking, tetapi juga risiko kelelahan kronis.
Teknologi mempercepat sekaligus mengaburkan batas waktu. Notifikasi tugas, pesan grup, dan email dosen datang tanpa mengenal jam kerja. Mahasiswa selalu “terhubung”, tetapi jarang benar-benar istirahat. Waktu senggang pun sering habis untuk scrolling media sosial, yang diam-diam menyedot energi dan fokus.
Namun, tidak semua penundaan bersifat negatif. Sebagian mahasiswa justru menemukan bahwa jeda membantu mereka berpikir lebih matang. Menunda dengan sadar bisa menjadi strategi refleksi, bukan pelarian. Masalah muncul ketika menunda berubah menjadi kebiasaan tanpa kendali.
Pada akhirnya, pengelolaan waktu mahasiswa bukan soal disiplin kaku, melainkan keseimbangan. Mahasiswa belajar bahwa hidup tidak hanya tentang menyelesaikan tugas tepat waktu, tetapi juga menjaga kesehatan fisik dan mental. Ritme waktu yang sehat membantu mahasiswa bertahan, berkembang, dan menikmati proses belajar tanpa kehilangan diri sendiri.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.