Relasi Mahasiswa Dan Dosen: Antara Otoritas, Kedekatan, Dan Profesionalisme


Faturahman
Faturahman
Relasi Mahasiswa Dan Dosen: Antara Otoritas, Kedekatan, Dan Profesionalisme
Relasi Mahasiswa Dan Dosen: Antara Otoritas, Kedekatan, Dan Profesionalisme

Hubungan antara mahasiswa dan dosen merupakan elemen penting dalam kehidupan kampus. Relasi ini tidak hanya menentukan proses belajar-mengajar, tetapi juga membentuk pengalaman akademik dan psikologis mahasiswa. Di Indonesia, relasi tersebut mengalami pergeseran seiring perubahan budaya pendidikan dan generasi.

Secara tradisional, dosen dipandang sebagai figur otoritas. Mahasiswa cenderung menjaga jarak, berbicara formal, dan segan menyampaikan pendapat berbeda. Pola ini masih terasa, terutama di kampus dengan budaya hierarkis yang kuat. Bagi sebagian mahasiswa, rasa sungkan ini justru menghambat komunikasi akademik.

Namun, generasi mahasiswa saat ini tumbuh dalam budaya yang lebih egaliter. Mereka mengharapkan dosen yang terbuka, komunikatif, dan mudah diakses. Media digital seperti email, pesan instan, dan platform pembelajaran daring memperpendek jarak interaksi. Dosen tidak lagi hanya hadir di ruang kelas, tetapi juga di ruang digital.

Kedekatan relasi mahasiswa dan dosen memiliki sisi positif. Mahasiswa lebih berani bertanya, berdiskusi, dan meminta arahan. Dosen pun dapat mengenal potensi mahasiswa secara lebih personal. Dalam konteks bimbingan akademik dan skripsi, relasi yang sehat sangat membantu kelancaran proses belajar.

Namun, kedekatan juga memerlukan batas profesional yang jelas. Tidak semua mahasiswa memahami etika komunikasi akademik, seperti waktu menghubungi dosen atau cara menyampaikan pesan. Di sisi lain, dosen juga menghadapi tantangan menjaga objektivitas di tengah interaksi yang semakin personal.

Relasi mahasiswa dan dosen juga dipengaruhi oleh perbedaan generasi. Perbedaan gaya komunikasi, nilai, dan ekspektasi kadang memicu kesalahpahaman. Mahasiswa menginginkan fleksibilitas, sementara dosen menekankan disiplin. Ketika kedua pihak tidak saling memahami, relasi menjadi kaku atau bahkan konfliktual.

Dalam konteks Merdeka Belajar, peran dosen bergeser menjadi fasilitator dan mentor. Relasi tidak lagi sepihak, melainkan kolaboratif. Mahasiswa didorong aktif mencari pengetahuan, sementara dosen membimbing proses berpikir. Model ini menuntut kedewasaan dari kedua belah pihak.

Bagi mahasiswa, relasi dengan dosen sering menjadi pembelajaran sosial yang penting. Mereka belajar berkomunikasi profesional, menerima kritik, dan mengelola perbedaan pendapat. Pengalaman ini menjadi bekal berharga ketika memasuki dunia kerja yang penuh dinamika relasi hierarkis.

Pada akhirnya, relasi mahasiswa dan dosen idealnya dibangun atas dasar saling menghargai. Otoritas akademik tetap dijaga, tetapi dialog dan empati menjadi jembatan. Kampus yang sehat adalah ruang di mana relasi ini mendukung pertumbuhan intelektual sekaligus kematangan karakter mahasiswa.


RajaBacklink.com: Jasa Backlink Murah Berkualitas - Jasa Promosi Website Banner Bersponsor

Suka

Tentang Penulis


Faturahman

Faturahman

Guest - Universitas Terbuka

Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.

Tulis Komentar


0 / 1000

Lagi Tranding


Rekomendasi Lainnya