Salah memilih jurusan merupakan pengalaman yang cukup banyak dialami mahasiswa di Indonesia. Di awal perkuliahan, semuanya mungkin terlihat baik-baik saja. Namun seiring berjalannya waktu, sebagian mahasiswa mulai merasa tidak nyaman, kehilangan minat, dan mempertanyakan keputusan yang telah diambil. Penyesalan ini sering muncul ketika realita perkuliahan tidak sesuai dengan ekspektasi awal.
Salah satu penyebab utama penyesalan adalah kurangnya pemahaman tentang jurusan yang dipilih. Banyak mahasiswa memilih jurusan hanya berdasarkan nama, stereotip, atau saran orang lain tanpa mengetahui isi perkuliahannya. Ketika harus menghadapi mata kuliah yang tidak diminati atau tidak sesuai dengan kemampuan, rasa terpaksa mulai muncul dan motivasi belajar menurun.
Tekanan dari orang tua dan lingkungan juga sering menjadi faktor besar. Demi memenuhi harapan keluarga, mahasiswa memilih jurusan yang dianggap menjanjikan secara ekonomi, meskipun tidak sesuai dengan minat pribadi. Awalnya keputusan ini terasa aman, tetapi dalam jangka panjang dapat menimbulkan konflik batin, stres, dan rasa tidak bahagia selama menjalani kuliah.
Penyesalan juga muncul karena ekspektasi yang tidak realistis. Ada mahasiswa yang membayangkan jurusan tertentu akan terasa mudah atau menyenangkan, tetapi kenyataannya penuh tuntutan akademik. Perbedaan antara harapan dan realita ini membuat mahasiswa merasa tertipu oleh pilihannya sendiri.
Dampak dari salah jurusan tidak hanya dirasakan secara akademik, tetapi juga emosional dan mental. Mahasiswa yang tidak menikmati jurusannya cenderung merasa tertekan, kehilangan arah, dan kurang percaya diri. Rasa malas mengikuti kuliah, sering absen, dan menunda tugas menjadi gejala yang umum terjadi.
Namun, penyesalan salah jurusan tidak selalu berarti akhir dari segalanya. Banyak mahasiswa yang justru belajar beradaptasi dan menemukan makna baru di jurusan yang awalnya tidak diminati. Dengan membuka diri, mencari sisi menarik dari bidang studi, dan mengaitkannya dengan minat lain, sebagian mahasiswa berhasil bertahan dan berkembang.
Bagi mahasiswa yang merasa benar-benar tidak cocok, penting untuk melakukan evaluasi secara rasional. Apakah ketidaknyamanan berasal dari jurusan itu sendiri atau dari faktor sementara seperti metode belajar atau lingkungan? Konsultasi dengan dosen pembimbing atau konselor akademik dapat membantu mahasiswa melihat pilihan yang tersedia secara lebih objektif.
Opsi pindah jurusan juga bisa menjadi solusi, meskipun tidak mudah. Keputusan ini membutuhkan keberanian, kesiapan mental, dan komunikasi yang baik dengan orang tua. Pindah jurusan bukanlah kegagalan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap kebahagiaan dan masa depan diri sendiri.
Pada akhirnya, penyesalan salah memilih jurusan merupakan pengalaman yang pahit, tetapi juga sarat pelajaran. Dari pengalaman ini, mahasiswa belajar mengenali diri, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas pilihannya. Baik bertahan maupun berpindah, yang terpenting adalah menjalani keputusan tersebut dengan kesadaran dan komitmen penuh.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.
Belum ada komentar, jadilah yang pertama mengomentari artikel ini