Makanan memiliki peran penting dalam kehidupan mahasiswa, bukan hanya sebagai pemenuh kebutuhan fisik, tetapi juga sebagai penentu ritme hidup sehari-hari. Bagi mahasiswa Indonesia, pilihan makanan sering kali ditentukan oleh tiga faktor utama: harga, jarak, dan waktu. Dari sinilah lahir budaya makan khas mahasiswa yang sederhana, praktis, dan penuh kompromi.
Warung burjo, warteg, dan kaki lima menjadi penyelamat utama. Dengan harga terjangkau, mahasiswa bisa makan kenyang tanpa menguras dompet. Menu seperti mi instan, telur, nasi goreng, dan tempe menjadi pilihan favorit karena mudah ditemukan dan cepat disajikan. Pola makan ini membentuk kebiasaan yang bertahan hingga bertahun-tahun masa kuliah.
Namun, keterbatasan pilihan sering membuat aspek gizi terabaikan. Sayur dan buah bukan prioritas utama, terutama ketika uang saku menipis. Banyak mahasiswa menyadari pola makan mereka kurang sehat, tetapi merasa tidak memiliki alternatif yang realistis. Kesehatan sering dikalahkan oleh kebutuhan bertahan hidup.
Mahasiswa yang tinggal di kos menghadapi dilema tambahan. Memasak sendiri dianggap lebih sehat dan hemat, tetapi membutuhkan waktu, tenaga, dan peralatan. Tidak semua kos mendukung aktivitas memasak. Akibatnya, membeli makanan jadi tetap menjadi pilihan paling praktis.
Budaya makan juga berkaitan dengan kehidupan sosial. Makan bersama teman menjadi sarana berbagi cerita dan melepas stres. Nongkrong sambil makan murah meriah menciptakan rasa kebersamaan yang kuat. Bagi mahasiswa, makan bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga pengalaman emosional.
Namun, kebiasaan makan tidak teratur sering muncul. Melewatkan sarapan, makan larut malam, atau mengganti makan dengan camilan menjadi hal lumrah. Pola ini berdampak pada energi dan konsentrasi. Banyak mahasiswa merasa mudah lelah atau sulit fokus tanpa mengaitkannya dengan pola makan.
Sebagian mahasiswa mulai mencoba mengubah kebiasaan. Mereka membawa bekal, memilih menu lebih seimbang, atau mengatur jadwal makan. Kesadaran ini biasanya muncul setelah mengalami masalah kesehatan ringan atau kelelahan berkepanjangan. Perubahan kecil menjadi langkah awal menuju pola hidup lebih sehat.
Peran kampus dalam isu ini masih terbatas. Kantin kampus sering kali tidak menyediakan pilihan sehat yang terjangkau. Padahal, lingkungan kampus memiliki potensi besar untuk membentuk kebiasaan makan yang lebih baik melalui edukasi dan fasilitas.
Menariknya, mahasiswa juga belajar tentang prioritas melalui makanan. Ketika uang terbatas, mereka belajar memilih, menahan diri, dan beradaptasi. Pengalaman ini membentuk sikap mandiri dan realistis terhadap kehidupan.
Pada akhirnya, pola makan mahasiswa mencerminkan perjuangan sehari-hari. Di balik sepiring nasi dan lauk sederhana, tersimpan cerita tentang bertahan, berbagi, dan belajar mengelola diri. Meski penuh keterbatasan, pengalaman ini menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan mahasiswa menuju kedewasaan.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.