Menjadi mahasiswa rantau di Indonesia bukan sekadar soal kuliah di kota besar, tetapi juga menghadapi tantangan hidup yang kompleks dan beragam. Banyak mahasiswa meninggalkan rumah untuk mengejar pendidikan, sekaligus belajar kemandirian. Hunian kos menjadi pusat kehidupan mereka: tempat belajar, tidur, memasak, dan menata rutinitas sehari-hari. Dengan biaya hidup yang meningkat, mahasiswa belajar mengatur uang saku dan menciptakan sumber pendapatan tambahan melalui usaha sampingan, seperti jualan makanan, freelance, atau memanfaatkan platform digital untuk bisnis kreatif. Strategi ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga membentuk karakter tangguh dan inovatif.
Dalam konteks akademik, mahasiswa kini menghadapi era kurikulum Merdeka Belajar yang menekankan fleksibilitas dan pengalaman nyata. Tugas tidak lagi hanya berupa ujian dan laporan, tetapi juga proyek lintas disiplin yang menuntut kolaborasi dan kreativitas. AI pun semakin digunakan sebagai alat bantu, mempermudah riset, menulis, dan mempresentasikan ide. Peran dosen berubah menjadi mentor yang membimbing mahasiswa menemukan solusi sendiri, menggeser paradigma lama di mana dosen hanya sebagai sumber informasi.
Di sisi sosial, mahasiswa rantau harus membangun jaringan baru sambil tetap menjaga identitas budaya asal. Budaya nongkrong di kafe, burjo, atau coworking space menjadi tempat kolaborasi kreatif dan membangun relasi sosial. Sementara itu, tekanan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru kadang menimbulkan konflik internal: antara mempertahankan tradisi keluarga dan beradaptasi dengan gaya hidup urban. Mahasiswa harus belajar fleksibilitas budaya sambil tetap bangga dengan akar asalnya.
Tekanan hidup dan kesehatan mental juga menjadi bagian tak terpisahkan. Mahasiswa rantau menghadapi quarter-life crisis, rasa rindu rumah, dan ekspektasi keluarga yang tinggi. Kehidupan kos yang penuh kesibukan akademik, organisasi, dan side hustle membuat mereka perlu menemukan cara menjaga keseimbangan mental, seperti bergabung komunitas, berolahraga, atau melakukan kegiatan kreatif yang menenangkan pikiran. Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental ini menjadi fondasi bagi mereka untuk tetap produktif dan resilien.
Akulturasi budaya yang terjadi di antara mahasiswa rantau menciptakan mozaik sosial yang unik. Misalnya, tradisi kuliner, bahasa daerah, atau kebiasaan tertentu dibawa ke lingkungan kos atau kampus, memunculkan interaksi budaya yang memperkaya pengalaman sosial. Mahasiswa dari daerah berbeda saling bertukar pengetahuan budaya, membangun rasa toleransi, dan menghadirkan dinamika sosial yang kreatif dan inklusif. Proses ini bukan sekadar adaptasi, tetapi juga pembelajaran nilai-nilai lokal yang memperkuat identitas pribadi di tengah modernitas kota besar.
Dengan demikian, kehidupan mahasiswa rantau adalah perjalanan pembelajaran yang kompleks: belajar mandiri, menjaga budaya, memanfaatkan teknologi, dan membangun jaringan sosial. Mereka tidak hanya menuntut ilmu, tetapi juga belajar menjadi pribadi yang adaptif, kreatif, dan resilien. Kampus dan kota besar menjadi laboratorium kehidupan yang menyiapkan mereka menghadapi dunia profesional dan sosial, sambil tetap menjaga akar budaya dan identitas diri.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.