Menjadi mahasiswa perantau adalah pengalaman yang penuh kontradiksi. Di satu sisi, ada kebebasan dan kesempatan untuk tumbuh. Di sisi lain, ada rindu rumah, kesepian, dan tuntutan untuk bertahan di lingkungan yang sepenuhnya baru. Perjalanan ini tidak selalu romantis, tetapi sangat membentuk karakter.
Mahasiswa perantau biasanya datang dengan mimpi besar. Mereka meninggalkan keluarga dan zona nyaman demi pendidikan yang lebih baik. Hari-hari awal sering diwarnai rasa kagum terhadap kota baru, kampus, dan lingkungan sekitar. Namun, euforia ini perlahan berganti dengan realitas hidup mandiri.
Rindu rumah menjadi perasaan yang sulit dihindari. Hal-hal sederhana seperti masakan rumah, obrolan keluarga, atau suasana kampung halaman tiba-tiba terasa sangat berarti. Mahasiswa perantau belajar mengelola kerinduan ini sambil tetap menjalani kewajiban akademik.
Adaptasi menjadi tantangan utama. Bahasa lokal, budaya pergaulan, dan ritme kota menuntut penyesuaian. Tidak semua proses berjalan mulus. Kesalahpahaman sosial dan rasa canggung sering terjadi. Namun, dari situ mahasiswa belajar toleransi dan kemampuan beradaptasi.
Kehidupan nge-kos menjadi sekolah kehidupan tersendiri. Mengatur uang bulanan, memilih makanan murah namun mengenyangkan, serta menjaga kesehatan menjadi rutinitas baru. Mahasiswa perantau belajar bertahan dengan sumber daya terbatas, terutama di akhir bulan.
Di tengah keterbatasan, solidaritas sesama perantau sering menjadi penyelamat. Teman kos, rekan satu daerah, atau komunitas kampus menjadi keluarga baru. Kebersamaan ini menciptakan rasa aman dan dukungan emosional yang sangat dibutuhkan.
Mahasiswa perantau juga belajar menghadapi masalah sendiri. Saat sakit, stres, atau menghadapi kegagalan akademik, tidak selalu ada keluarga yang bisa langsung membantu. Proses ini membangun kemandirian emosional dan mental yang kuat.
Namun, tidak semua perjuangan terlihat dari luar. Banyak mahasiswa perantau menyembunyikan kesulitan demi terlihat baik-baik saja. Kesadaran untuk berbagi cerita dan mencari bantuan menjadi penting agar beban tidak dipikul sendirian.
Seiring waktu, mahasiswa perantau menyadari bahwa perjalanan ini membentuk mereka menjadi pribadi yang lebih tangguh. Mereka belajar berdiri di atas kaki sendiri, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas hidupnya.
Pada akhirnya, menjadi mahasiswa perantau bukan hanya tentang menempuh pendidikan di kota lain. Ini adalah proses pendewasaan yang penuh pelajaran hidup. Dari rindu rumah hingga rasa bangga mampu bertahan, mahasiswa perantau membawa pengalaman yang akan melekat seumur hidup.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.