Menjadi mahasiswa perantau adalah pengalaman besar dalam kehidupan banyak anak muda Indonesia. Berpindah dari kota asal ke kota pendidikan bukan sekadar perubahan lokasi, tetapi juga perubahan cara hidup. Mahasiswa perantau harus belajar beradaptasi dengan lingkungan baru, budaya baru, dan ritme kehidupan yang berbeda dari rumah.
Hari-hari awal perkuliahan sering diwarnai perasaan campur aduk. Antusiasme menjalani kehidupan kampus bertemu dengan rasa cemas dan rindu keluarga. Jarak fisik dari orang tua membuat mahasiswa perantau harus mengandalkan diri sendiri dalam mengambil keputusan sehari-hari. Dari sinilah proses pendewasaan dimulai.
Adaptasi pertama biasanya terjadi pada lingkungan tempat tinggal. Kehidupan kos menuntut mahasiswa untuk mandiri, mengatur waktu, dan menjaga hubungan dengan penghuni lain. Tidak semua kos menawarkan kenyamanan ideal, sehingga mahasiswa belajar berkompromi dengan kondisi yang ada. Proses ini mengajarkan ketahanan dan fleksibilitas.
Di lingkungan kampus, mahasiswa perantau juga menghadapi tantangan sosial. Bahasa, logat, dan kebiasaan lokal kadang menimbulkan rasa canggung. Namun, interaksi dengan teman-teman dari berbagai daerah justru memperluas wawasan dan membentuk sikap toleran. Kampus menjadi miniatur keberagaman Indonesia.
Masalah finansial sering menjadi tantangan tersendiri. Mahasiswa perantau harus pandai mengelola uang saku agar cukup hingga akhir bulan. Biaya hidup di kota besar yang lebih tinggi memaksa mahasiswa belajar hidup hemat dan realistis. Kesalahan dalam mengatur keuangan sering menjadi pelajaran yang tidak terlupakan.
Rindu rumah adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan perantau. Momen-momen tertentu, seperti sakit atau hari besar, sering memicu perasaan kesepian. Dalam situasi ini, peran teman menjadi sangat penting. Lingkar pertemanan di kampus sering berfungsi sebagai keluarga kedua.
Di sisi lain, kehidupan merantau memberi ruang besar untuk tumbuh. Mahasiswa belajar mengenal diri sendiri, menemukan minat, dan membangun kepercayaan diri. Jauh dari pengawasan keluarga, mahasiswa belajar bertanggung jawab atas pilihan hidupnya sendiri.
Pada akhirnya, menjadi mahasiswa perantau adalah perjalanan pembentukan karakter. Meski penuh tantangan, pengalaman ini membekali mahasiswa dengan ketangguhan, kemandirian, dan kedewasaan emosional. Nilai-nilai inilah yang akan terus melekat bahkan setelah masa kuliah berakhir.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.