Tidak semua mahasiswa Indonesia menjalani kehidupan kos atau tinggal di sekitar kampus. Sebagian memilih atau terpaksa menjadi mahasiswa komuter—pulang pergi dari rumah ke kampus setiap hari. Pilihan ini sering dipandang sederhana, tetapi sesungguhnya membentuk pola hidup, ritme belajar, dan pengalaman kampus yang sangat berbeda.
Mahasiswa komuter umumnya mempertimbangkan faktor ekonomi dan keluarga. Tinggal bersama orang tua dapat menghemat biaya kos dan makan. Bagi keluarga dengan keterbatasan finansial, pilihan ini menjadi strategi bertahan yang rasional. Namun, penghematan tersebut dibayar dengan waktu dan energi yang tidak sedikit.
Perjalanan harian menjadi bagian besar dari hidup mahasiswa komuter. Bangun lebih pagi, menghadapi kemacetan, atau bergantung pada transportasi umum sudah menjadi rutinitas. Waktu tempuh yang panjang sering menguras tenaga sebelum kuliah dimulai. Tidak jarang, kelelahan fisik memengaruhi konsentrasi dan partisipasi di kelas.
Transportasi juga menentukan fleksibilitas mahasiswa komuter. Ketika jadwal kuliah berubah mendadak atau ada kegiatan malam, mereka harus berpikir dua kali. Pulang larut berarti risiko keamanan, kelelahan, dan konflik dengan jadwal rumah. Akibatnya, mahasiswa komuter cenderung selektif mengikuti kegiatan kampus di luar jam kuliah.
Dari sisi sosial, mahasiswa komuter menghadapi tantangan tersendiri. Interaksi informal seperti nongkrong malam, diskusi spontan, atau kerja kelompok mendadak sering terlewat. Bukan karena tidak mau, tetapi karena keterbatasan waktu dan jarak. Hal ini dapat menimbulkan rasa terpinggirkan dari dinamika sosial kampus.
Namun, mahasiswa komuter juga memiliki keunggulan. Mereka terbiasa mengatur waktu dengan ketat dan disiplin. Waktu di perjalanan sering dimanfaatkan untuk membaca, mendengarkan materi kuliah, atau sekadar merenung. Kehidupan yang terstruktur membuat mereka lebih peka terhadap batas energi dan prioritas.
Relasi dengan keluarga menjadi aspek penting dalam kehidupan mahasiswa komuter. Dukungan emosional dan logistik dari rumah dapat menjadi sumber stabilitas. Namun, mahasiswa juga harus menegosiasikan peran ganda sebagai anak di rumah dan mahasiswa di kampus. Tidak jarang, tanggung jawab domestik ikut menyita waktu belajar.
Teknologi membantu menjembatani keterbatasan mahasiswa komuter. Grup daring, kelas online, dan kolaborasi digital memungkinkan mereka tetap terhubung. Meski tidak selalu hadir secara fisik, mereka tetap bisa berkontribusi secara akademik dan sosial melalui ruang virtual.
Keberadaan mahasiswa komuter menunjukkan bahwa pengalaman kuliah tidak tunggal. Kampus sering dirancang dengan asumsi mahasiswa tinggal dekat, padahal realitasnya lebih beragam. Kebijakan akademik yang fleksibel, jadwal yang terprediksi, dan dukungan pembelajaran daring dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih inklusif.
Pada akhirnya, menjadi mahasiswa komuter adalah bentuk adaptasi. Di antara rumah, jalan, dan ruang kuliah, mereka belajar mengelola waktu, energi, dan ekspektasi. Pengalaman ini membentuk ketangguhan yang mungkin tidak terlihat, tetapi sangat berharga dalam kehidupan dewasa kelak.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.
Belum ada komentar, jadilah yang pertama mengomentari artikel ini