Literasi informasi menjadi kompetensi penting bagi mahasiswa Indonesia di era digital. Arus informasi yang cepat dan berlimpah menuntut mahasiswa untuk mampu mencari, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara kritis. Perguruan tinggi berperan dalam membekali mahasiswa dengan keterampilan literasi informasi yang kuat.
Dalam kegiatan perkuliahan, mahasiswa dituntut menggunakan sumber yang kredibel dan relevan. Tugas akademik mendorong mahasiswa untuk mengakses jurnal ilmiah, buku akademik, dan basis data terpercaya. Proses ini melatih kemampuan analisis dan penilaian terhadap kualitas informasi.
Bagi mahasiswa yang tinggal di kos, akses internet menjadi sarana utama dalam pencarian informasi. Mahasiswa perlu mengelola waktu dan memilih sumber dengan bijak agar tidak terjebak informasi yang tidak valid. Kebiasaan belajar mandiri di kos memperkuat keterampilan literasi informasi.
Peran organisasi kemahasiswaan juga berkontribusi dalam penguatan literasi informasi. Pelatihan penulisan ilmiah, diskusi isu aktual, dan kajian kritis membantu mahasiswa memahami cara mengolah informasi secara bertanggung jawab. Kegiatan ini mendorong budaya diskusi berbasis data.
Dalam pergaulan mahasiswa, pertukaran informasi terjadi secara cepat melalui media digital. Mahasiswa perlu memiliki kemampuan verifikasi agar tidak menyebarkan informasi yang keliru. Lingkungan pergaulan yang kritis dan edukatif membantu membangun kebiasaan berbagi informasi yang akurat.
Mahasiswa yang berkuliah di wilayah perkotaan memiliki akses luas terhadap perpustakaan, pusat data, dan kegiatan literasi. Akses ini perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas referensi akademik. Namun, mahasiswa juga dituntut selektif dalam memilih sumber di tengah banjir informasi digital.
Aspek kesehatan mahasiswa berkaitan dengan penggunaan informasi digital. Paparan informasi berlebihan dapat menimbulkan kelelahan mental. Mahasiswa perlu mengatur waktu layar dan menjaga keseimbangan antara aktivitas daring dan luring.
Dalam penguatan literasi informasi, peran dosen sangat strategis. Dosen membimbing mahasiswa dalam memilih sumber, menerapkan sitasi yang benar, dan menghindari plagiarisme. Keteladanan dosen dalam penggunaan referensi ilmiah memperkuat pemahaman mahasiswa.
Setiap program studi memiliki kebutuhan literasi informasi yang berbeda. Program studi sains menekankan data empiris, program studi sosial menekankan analisis sumber, sementara program studi humaniora menekankan interpretasi teks. Pendekatan ini menyesuaikan karakteristik keilmuan masing-masing.
Secara keseluruhan, universitas di Indonesia berperan penting dalam membangun budaya literasi informasi. Dengan keterampilan ini, mahasiswa mampu menjadi pengguna dan produsen informasi yang kritis, etis, dan bertanggung jawab.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.