Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa di Indonesia. Platform seperti Instagram, X, TikTok, dan WhatsApp digunakan untuk berkomunikasi, mencari informasi, hingga mengekspresikan diri. Bagi mahasiswa, media sosial memiliki peran ganda, yaitu sebagai sarana pendukung kehidupan akademik sekaligus tantangan yang harus dikelola dengan bijak.
Kehidupan mahasiswa di kos sangat erat kaitannya dengan penggunaan media sosial. Di sela waktu belajar atau istirahat, media sosial menjadi hiburan yang mudah diakses. Mahasiswa sering memanfaatkannya untuk berkomunikasi dengan keluarga di kampung halaman atau berdiskusi dengan teman kuliah. Namun, penggunaan yang berlebihan dapat mengganggu konsentrasi belajar dan pola tidur, sehingga perlu pengaturan waktu yang disiplin.
Organisasi kemahasiswaan banyak memanfaatkan media sosial sebagai alat publikasi dan koordinasi. Informasi kegiatan, pendaftaran acara, dan dokumentasi organisasi disebarkan secara cepat melalui platform digital. Hal ini melatih mahasiswa dalam komunikasi publik dan pengelolaan informasi. Di sisi lain, mahasiswa juga belajar tentang etika digital, terutama dalam menyampaikan pendapat dan menjaga citra organisasi.
Pergaulan mahasiswa di era media sosial menjadi semakin luas. Mahasiswa dapat berinteraksi dengan teman lintas kampus, bahkan lintas negara. Media sosial membuka ruang diskusi dan kolaborasi yang sebelumnya sulit dilakukan. Namun, pergaulan digital juga membawa risiko seperti perbandingan sosial, komentar negatif, dan tekanan untuk selalu tampil sempurna. Mahasiswa perlu memiliki ketahanan mental dan sikap kritis dalam menyikapi konten media sosial.
Kehidupan di kota memperkuat peran media sosial dalam kehidupan mahasiswa. Berbagai kegiatan kampus, seminar, dan peluang magang sering diumumkan melalui media sosial. Mahasiswa yang aktif dan selektif mengikuti informasi dapat memperoleh banyak manfaat. Sebaliknya, paparan gaya hidup kota yang glamor di media sosial dapat memicu perilaku konsumtif jika tidak disikapi secara bijak.
Kesehatan mental mahasiswa juga berkaitan erat dengan penggunaan media sosial. Paparan informasi berlebihan, berita negatif, dan tekanan sosial dapat memicu stres dan kecemasan. Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk menjaga keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata, seperti berinteraksi langsung dengan teman atau melakukan aktivitas fisik.
Peran dosen dalam konteks media sosial semakin relevan. Dosen dapat mengarahkan mahasiswa memanfaatkan media sosial sebagai sumber belajar, misalnya mengikuti akun edukatif atau berdiskusi secara daring. Dosen juga berperan mengingatkan pentingnya etika dan tanggung jawab dalam bermedia sosial sebagai bagian dari sikap akademik.
Ragam program studi memiliki pendekatan yang berbeda terhadap media sosial. Mahasiswa komunikasi dan bisnis memanfaatkannya sebagai media pembelajaran dan praktik profesional, sementara mahasiswa prodi lain menggunakannya sebagai sarana pendukung informasi. Perbedaan ini memperkaya cara mahasiswa memanfaatkan media sosial secara produktif.
Secara umum, universitas di Indonesia menjadi ruang penting untuk membangun literasi digital mahasiswa. Dengan pemanfaatan media sosial yang bijak, mahasiswa dapat menjadikannya sebagai alat pengembangan diri tanpa mengorbankan prestasi akademik dan kesehatan mental.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.
Belum ada komentar, jadilah yang pertama mengomentari artikel ini