Isu lingkungan hidup semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa Indonesia. Perubahan iklim, krisis sampah, dan degradasi alam bukan lagi wacana jauh, melainkan realitas yang dirasakan sehari-hari. Kampus menjadi salah satu ruang penting tumbuhnya kesadaran lingkungan di kalangan generasi muda.
Mahasiswa sering berada di posisi unik. Mereka memiliki akses pada pengetahuan ilmiah sekaligus energi untuk bergerak. Kombinasi ini menjadikan mahasiswa aktor potensial dalam mendorong perubahan perilaku ramah lingkungan, dimulai dari lingkungan kampus sendiri.
Kesadaran lingkungan muncul dalam berbagai bentuk sederhana. Penggunaan botol minum ulang, pengurangan plastik sekali pakai, dan kebiasaan memilah sampah mulai terlihat di beberapa kampus. Meski tampak kecil, langkah-langkah ini mencerminkan perubahan pola pikir.
Organisasi dan komunitas mahasiswa berperan besar dalam gerakan ini. Unit kegiatan pecinta alam, komunitas daur ulang, hingga kelompok diskusi lingkungan menjadi ruang edukasi sekaligus aksi. Mahasiswa belajar bahwa menjaga lingkungan membutuhkan konsistensi dan kerja kolektif.
Namun, penerapan gaya hidup ramah lingkungan tidak selalu mudah. Fasilitas kampus sering kali belum mendukung. Kurangnya tempat sampah terpilah atau kebijakan kampus yang belum berorientasi hijau membuat upaya mahasiswa terbatas.
Di sisi lain, budaya konsumtif masih kuat. Acara kampus yang menghasilkan banyak sampah, penggunaan dekorasi sekali pakai, dan gaya hidup instan menjadi tantangan tersendiri. Mahasiswa sering berada di persimpangan antara idealisme dan kenyamanan.
Pendidikan lingkungan di kampus juga beragam. Di beberapa jurusan, isu keberlanjutan menjadi bagian kurikulum. Di jurusan lain, isu ini hanya disentuh secara sekilas. Padahal, persoalan lingkungan bersifat lintas disiplin dan relevan bagi semua bidang studi.
Menariknya, mahasiswa mulai mengaitkan isu lingkungan dengan keadilan sosial. Mereka menyadari bahwa kerusakan lingkungan sering berdampak lebih besar pada kelompok rentan. Dari sini, kesadaran ekologis berkembang menjadi kepedulian sosial yang lebih luas.
Media sosial menjadi alat penting dalam menyebarkan kesadaran lingkungan. Kampanye digital, infografis, dan cerita lapangan membantu isu lingkungan menjangkau lebih banyak mahasiswa. Meski demikian, tantangan aktivisme digital adalah menjaga agar kepedulian tidak berhenti pada unggahan semata.
Beberapa kampus mulai merespons dorongan ini dengan kebijakan ramah lingkungan. Program kampus hijau, pengelolaan energi, dan ruang terbuka hijau menjadi langkah awal. Kolaborasi antara mahasiswa dan institusi membuka peluang perubahan yang lebih sistematis.
Pada akhirnya, kesadaran lingkungan di kalangan mahasiswa adalah proses jangka panjang. Ia tumbuh dari pengetahuan, pengalaman, dan refleksi. Kampus menjadi laboratorium sosial tempat mahasiswa belajar bahwa menjaga lingkungan bukan tren sesaat, melainkan tanggung jawab bersama untuk masa depan.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.