Ketakutan akan kegagalan adalah pengalaman yang sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa. Di balik semangat belajar dan ambisi meraih masa depan, tersimpan kecemasan tentang nilai, kelulusan, dan masa depan setelah wisuda. Ketakutan ini sering hadir diam-diam, tetapi pengaruhnya besar terhadap cara mahasiswa menjalani perkuliahan.
Sejak awal masuk universitas, mahasiswa dihadapkan pada standar baru. Nilai tidak lagi sekadar angka, melainkan simbol kemampuan dan peluang. IPK menjadi tolok ukur yang sering dibandingkan, baik secara terbuka maupun tersirat. Dalam situasi ini, kegagalan akademik terasa seperti ancaman serius terhadap masa depan.
Ekspektasi keluarga memperkuat tekanan tersebut. Banyak mahasiswa merasa membawa harapan orang tua, terutama bagi mereka yang menjadi tumpuan keluarga. Kesalahan kecil dalam studi dapat menimbulkan rasa bersalah yang mendalam. Mahasiswa belajar bahwa kegagalan bukan hanya soal diri sendiri, tetapi juga menyangkut orang lain.
Ketakutan juga muncul dalam konteks non-akademik. Mahasiswa takut salah memilih organisasi, jurusan, atau jalur karier. Mereka khawatir tertinggal dari teman sebaya yang terlihat lebih sukses dan terarah. Media sosial memperparah perasaan ini dengan menampilkan pencapaian orang lain secara terus-menerus.
Ironisnya, ketakutan akan gagal justru dapat menghambat perkembangan. Mahasiswa menjadi enggan mencoba hal baru karena takut tidak berhasil. Mereka memilih zona aman, meskipun tidak sesuai dengan minat dan potensi. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menimbulkan penyesalan dan rasa tidak puas terhadap diri sendiri.
Namun, kegagalan sejatinya adalah bagian penting dari proses belajar. Mahasiswa yang pernah gagal sering memiliki ketahanan mental yang lebih kuat. Dari kegagalan, mereka belajar mengenali batas kemampuan, memperbaiki strategi, dan memahami bahwa kesalahan bukan akhir dari segalanya.
Lingkungan kampus berperan besar dalam membentuk cara mahasiswa memandang kegagalan. Budaya akademik yang terlalu menekankan hasil dapat membuat mahasiswa takut bereksperimen. Sebaliknya, lingkungan yang menghargai proses mendorong mahasiswa untuk berani mencoba dan belajar dari kesalahan.
Dosen dan institusi memiliki peran strategis dalam hal ini. Pendekatan pembelajaran yang manusiawi, umpan balik yang membangun, serta ruang dialog membantu mahasiswa memahami bahwa kegagalan adalah bagian dari perjalanan akademik. Dukungan ini membuat mahasiswa merasa tidak sendirian.
Pada akhirnya, masa kuliah adalah ruang aman untuk belajar gagal. Ketakutan akan kegagalan tidak harus dihilangkan, tetapi dikelola. Dengan sudut pandang yang lebih sehat, mahasiswa dapat melihat kegagalan sebagai guru yang membentuk kedewasaan dan kesiapan menghadapi kehidupan setelah kampus.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.
Belum ada komentar, jadilah yang pertama mengomentari artikel ini