Kesehatan mental menjadi isu penting dalam kehidupan mahasiswa Indonesia di era modern. Tuntutan akademik, tekanan keluarga, ekspektasi sosial media, serta kebutuhan untuk mandiri secara finansial sering menimbulkan stres yang signifikan. Banyak mahasiswa menghadapi quarter-life crisis, fase di mana mereka meragukan tujuan hidup dan kemampuan diri, sekaligus merasa tertekan untuk tampil “sempurna” di media sosial. Hunian kos, selain menjadi tempat tinggal, sering menjadi ruang refleksi dan manajemen stres: mahasiswa belajar mengatur rutinitas, menjaga kebersihan lingkungan, dan menemukan zona nyaman untuk melepaskan penat.
Ekonomi mahasiswa turut memengaruhi kesehatan mental. Inflasi dan biaya hidup yang meningkat membuat banyak mahasiswa mencari side hustle, mulai dari jualan online, freelance, hingga gig economy. Di satu sisi, usaha sampingan memberi mereka rasa kontrol dan kemandirian, tetapi di sisi lain, beban tambahan ini bisa memicu stres jika tidak dikelola dengan baik. Mengelola waktu antara kuliah, organisasi, dan pekerjaan paruh waktu menjadi keterampilan penting untuk menjaga keseimbangan mental.
Dalam konteks akademik, transformasi kurikulum Merdeka Belajar menghadirkan peluang sekaligus tekanan. Mahasiswa didorong untuk berkolaborasi, mengerjakan proyek lintas disiplin, dan memanfaatkan teknologi seperti AI. Peran dosen sebagai mentor membuka ruang diskusi kreatif, tetapi juga menuntut mahasiswa menjadi lebih proaktif dan bertanggung jawab. Bagi sebagian mahasiswa, tanggung jawab baru ini menimbulkan tekanan, terutama ketika dihadapkan pada ekspektasi tinggi untuk berhasil di semua bidang.
Sosialiasi di kampus juga memengaruhi kesehatan mental. Mahasiswa “Kura-Kura” cenderung fokus pada akademik dan organisasi, sementara “Kupu-Kupu” lebih menjaga kehidupan pribadi. Budaya nongkrong di kafe atau warung kopi bisa menjadi outlet relaksasi sekaligus ruang kreativitas, tetapi bila tidak dikelola, aktivitas ini dapat memicu konsumsi berlebih dan tekanan sosial. Interaksi dengan teman sebaya dan komunitas kampus penting untuk membangun dukungan emosional, berbagi pengalaman, dan mengurangi rasa kesepian.
Keragaman budaya mahasiswa rantau menghadirkan warna baru, sekaligus tantangan psikologis. Menjaga identitas budaya asal sambil menyesuaikan diri dengan lingkungan baru membutuhkan kemampuan adaptasi yang tinggi. Namun, proses ini juga memberi pengalaman berharga: mahasiswa belajar toleransi, empati, dan strategi menghadapi konflik sosial yang konstruktif.
Upaya menjaga kesehatan mental semakin mendapat perhatian. Banyak mahasiswa memanfaatkan layanan konseling kampus, bergabung dengan komunitas hobi, atau menjalani aktivitas relaksasi seperti yoga dan olahraga ringan. Kesadaran ini menunjukkan bahwa mahasiswa modern tidak hanya fokus pada prestasi akademik, tetapi juga kualitas hidup dan kesejahteraan psikologis.
Secara keseluruhan, mahasiswa Indonesia menghadapi tekanan yang kompleks: akademik, sosial, ekonomi, dan psikologis. Namun, melalui kemandirian, adaptasi digital, dukungan komunitas, dan pengelolaan stres, mereka belajar menavigasi tekanan hidup dengan resilien. Kehidupan kampus menjadi laboratorium tidak hanya untuk pengetahuan, tetapi juga untuk mengasah kemampuan bertahan dan berkembang di dunia nyata.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.
Belum ada komentar, jadilah yang pertama mengomentari artikel ini