Mahasiswa rantau Indonesia membawa warisan budaya daerah mereka ke lingkungan kampus di kota besar. Kearifan lokal yang dibawa—mulai dari kuliner, bahasa, tradisi, hingga nilai-nilai sosial—membentuk dinamika unik yang memperkaya interaksi akademik dan sosial. Proses ini menciptakan akulturasi budaya yang membantu mahasiswa membangun identitas diri dan kemampuan adaptasi.
Hunian kos atau kontrakan menjadi laboratorium awal adaptasi. Mahasiswa belajar menyesuaikan gaya hidup kota dengan tradisi lokal mereka, misalnya menyiapkan makanan khas daerah, berbagi cerita budaya, atau mengajak teman kos ikut merayakan tradisi tertentu. Aktivitas ini membangun rasa saling menghargai, kreatifitas, dan kemampuan komunikasi lintas budaya.
Fenomena “Kura-Kura” dan “Kupu-Kupu” juga terlihat dalam konteks budaya lokal. Kura-Kura yang aktif di organisasi sering memanfaatkan kearifan lokal untuk proyek kolaboratif, festival, atau komunitas kreatif. Kupu-Kupu lebih fokus pada akademik dan side hustle, namun tetap membagikan budaya lokal dalam lingkaran sosialnya. Kedua pola ini menunjukkan fleksibilitas mahasiswa dalam memanfaatkan budaya untuk pengembangan diri dan interaksi sosial.
Di ranah akademik, kurikulum Merdeka Belajar memungkinkan mahasiswa menggunakan perspektif budaya lokal untuk proyek penelitian, magang, atau inovasi kreatif. Misalnya, mahasiswa dari daerah tertentu bisa mengangkat potensi kuliner, kerajinan, atau praktik tradisi dalam proyek akademik. AI dan teknologi digital membantu mahasiswa mengembangkan ide, mengelola data, dan mempresentasikan hasilnya secara efektif.
Lingkungan sosial kampus, seperti kafe, coworking space, atau komunitas kreatif, menjadi arena pertukaran budaya. Mahasiswa rantau memperkenalkan tradisi, bahasa, atau kuliner khas, sementara mahasiswa lokal belajar menghargai dan mengapresiasi keberagaman. Interaksi ini meningkatkan toleransi, kreativitas, dan keterampilan adaptasi mahasiswa.
Tekanan hidup modern, seperti ekspektasi keluarga dan tuntutan akademik, tetap menjadi tantangan. Kearifan lokal dapat menjadi sumber kekuatan emosional, memberikan rasa identitas dan kenyamanan bagi mahasiswa rantau. Tradisi atau budaya yang dibawa menjadi anchor yang membantu mahasiswa tetap resilien, kreatif, dan percaya diri di lingkungan baru.
Secara keseluruhan, mahasiswa rantau menjadi jembatan budaya di lingkungan kampus. Kehidupan kos, side hustle, organisasi, proyek akademik, dan ruang sosial menjadi laboratorium akulturasi budaya, sekaligus sarana mengembangkan kreativitas, adaptasi, dan identitas diri. Integrasi kearifan lokal tidak hanya memperkaya kampus, tetapi juga membentuk mahasiswa yang toleran, inovatif, dan siap menghadapi tantangan global.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.
Belum ada komentar, jadilah yang pertama mengomentari artikel ini