Di era modern, mahasiswa Indonesia semakin mengandalkan kreativitas untuk bertahan secara finansial. Side hustle atau pekerjaan sampingan bukan lagi sekadar pilihan, tetapi bagian dari strategi hidup. Mahasiswa tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga mengembangkan bisnis kecil, proyek kreatif, dan portofolio profesional sejak dini. Hunian kos menjadi laboratorium kemandirian, di mana mahasiswa belajar mengelola keuangan, memasak, dan memanfaatkan ruang untuk produktivitas.
Banyak mahasiswa memanfaatkan teknologi untuk memulai usaha kreatif. Dari jualan makanan dan minuman khas daerah, pembuatan merchandise, hingga jasa digital seperti desain grafis, penulisan, atau konten media sosial. Platform online, marketplace, dan media sosial mempermudah promosi, membangun brand, dan menjangkau pasar lebih luas. Aktivitas ini tidak hanya menambah pendapatan, tetapi juga mengajarkan manajemen, strategi pemasaran, dan keterampilan komunikasi.
Akademik mendukung kreativitas ini. Kurikulum Merdeka Belajar memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengerjakan proyek lintas disiplin, magang, dan penelitian yang relevan dengan dunia kerja. Penggunaan AI dalam tugas harian mempermudah mahasiswa menganalisis data, membuat laporan, atau memprediksi tren bisnis. Dosen berperan sebagai mentor, memberikan arahan strategis, dan mendorong mahasiswa menemukan solusi kreatif sendiri. Hal ini menumbuhkan kemampuan problem solving, inovasi, dan kerja sama.
Sosialiasi juga menjadi katalis inovasi. Ruang nongkrong di kafe, coworking space, atau warung kopi menjadi arena bertukar ide, brainstorming proyek, dan membangun jejaring. Fenomena “Kura-Kura” dan “Kupu-Kupu” memengaruhi cara mahasiswa menyeimbangkan waktu antara organisasi, akademik, dan side hustle. Aktivitas sosial ini sekaligus melatih manajemen waktu, tanggung jawab, dan etika profesional.
Tekanan hidup tetap ada. Quarter-life crisis, ekspektasi keluarga, dan tuntutan media sosial membuat mahasiswa perlu menjaga kesehatan mental. Strategi umum termasuk olahraga, meditasi, komunitas hobi, dan konseling kampus. Dengan keseimbangan yang baik, mahasiswa mampu tetap produktif, kreatif, dan resilien menghadapi tantangan kehidupan kota besar.
Mahasiswa rantau menambahkan dimensi kreatif tersendiri. Mereka membawa identitas budaya, tradisi kuliner, dan perspektif lokal yang dapat dikembangkan menjadi produk atau proyek kreatif. Interaksi lintas budaya ini memperluas wawasan, membangun toleransi, dan membuka peluang kolaborasi yang inovatif.
Secara keseluruhan, mahasiswa Indonesia memanfaatkan kreativitas dan teknologi untuk menciptakan peluang ekonomi sekaligus mengembangkan keterampilan profesional. Kehidupan kos, jejaring sosial, dan proyek kreatif menjadi laboratorium nyata bagi mahasiswa untuk belajar mandiri, adaptif, dan inovatif, membentuk generasi yang siap menghadapi dunia kerja dan tantangan modern.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.