Pergaulan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa Indonesia. Di luar akademik, interaksi sosial membentuk karakter, kemampuan komunikasi, dan keterampilan adaptasi. Mahasiswa menghadapi tantangan untuk menyeimbangkan hubungan sosial, kegiatan akademik, side hustle, dan kehidupan pribadi, terutama bagi mahasiswa rantau yang jauh dari keluarga.
Hunian kos atau kontrakan menjadi pusat adaptasi sosial. Mahasiswa belajar membangun jaringan, mengenal budaya baru, dan berinteraksi dengan teman dari berbagai daerah. Proses ini sering menumbuhkan solidaritas, kerja sama, dan toleransi, sekaligus mengajarkan manajemen konflik dalam pergaulan. Aktivitas sehari-hari seperti memasak bersama, sharing tugas, atau diskusi santai menjadi media belajar sosial yang efektif.
Fenomena “Kura-Kura” dan “Kupu-Kupu” terlihat jelas dalam konteks pergaulan. Kura-Kura aktif dalam organisasi, rapat, dan kegiatan sosial, sehingga jejaring pertemanan lebih luas. Sementara Kupu-Kupu cenderung menjaga lingkaran pertemanan lebih kecil dan fokus pada akademik serta side hustle. Kedua pola ini menunjukkan fleksibilitas mahasiswa dalam mengatur hubungan sosial sesuai kapasitas dan kebutuhan mereka.
Budaya nongkrong di kafe, warung kopi, atau burjo bukan sekadar hiburan, tetapi juga ruang kolaborasi kreatif. Diskusi santai sering menghasilkan ide bisnis, proyek akademik, atau kegiatan sosial. Namun, mahasiswa perlu berhati-hati agar budaya nongkrong tidak berubah menjadi konsumtif atau mengganggu produktivitas akademik.
Tekanan sosial juga menjadi tantangan. Quarter-life crisis, ekspektasi media sosial, dan tuntutan untuk “serba bisa” dapat menimbulkan stres. Mahasiswa mengelola kesehatan mental melalui olahraga, meditasi, komunitas hobi, dan dukungan teman sebaya. Strategi ini membantu menjaga keseimbangan antara akademik, sosial, dan kehidupan pribadi.
Mahasiswa rantau menghadirkan warna unik dalam pergaulan kampus. Mereka membawa identitas budaya, kebiasaan, dan perspektif lokal yang memperkaya interaksi sosial. Akulturasi budaya ini menumbuhkan empati, toleransi, dan kreativitas dalam membangun hubungan lintas daerah.
Secara keseluruhan, pergaulan mahasiswa bukan sekadar hiburan, tetapi laboratorium sosial yang membentuk karakter, empati, dan keterampilan komunikasi. Kehidupan kos, organisasi, side hustle, dan ruang sosial menjadi arena nyata untuk belajar menavigasi hubungan sosial, menghadapi tantangan interpersonal, dan mengembangkan kemampuan adaptasi di tengah dinamika kampus.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.