Budaya literasi merupakan fondasi utama dunia akademik, namun di kalangan mahasiswa Indonesia saat ini, aktivitas membaca menghadapi tantangan besar. Bukan karena mahasiswa tidak mampu membaca, melainkan karena perhatian mereka terpecah oleh derasnya arus informasi digital. Membaca buku tebal, jurnal ilmiah, atau tulisan panjang sering kalah menarik dibanding konten singkat di media sosial.
Di bangku kuliah, mahasiswa dituntut membaca berbagai referensi untuk memahami materi dan menyusun tugas. Namun, kebiasaan membaca mendalam (deep reading) semakin jarang dilakukan. Banyak mahasiswa memilih membaca ringkasan, slide presentasi, atau mencari penjelasan instan. Literasi pun bergeser dari pemahaman mendalam menuju sekadar pemenuhan kewajiban akademik.
Perpustakaan kampus masih menjadi simbol literasi, tetapi fungsinya berubah. Tidak sedikit mahasiswa datang ke perpustakaan bukan untuk membaca buku, melainkan mencari tempat tenang untuk mengerjakan tugas atau mengakses internet. Buku fisik tetap ada, namun interaksinya dengan mahasiswa semakin terbatas.
Di sisi lain, literasi digital membuka peluang baru. Mahasiswa kini dapat mengakses jurnal internasional, buku elektronik, dan sumber belajar gratis. Blog akademik, video edukatif, dan diskusi daring memperluas bentuk literasi. Tantangannya adalah memilah informasi yang kredibel dan membangun kebiasaan berpikir kritis di tengah banjir data.
Budaya literasi juga dipengaruhi oleh tekanan akademik. Beban tugas yang menumpuk membuat mahasiswa membaca secara terburu-buru. Membaca bukan lagi aktivitas reflektif, melainkan kegiatan cepat untuk mencari kutipan atau jawaban. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi melemahkan kemampuan analisis dan argumentasi.
Namun, di tengah kondisi tersebut, muncul komunitas literasi mahasiswa. Klub baca, diskusi buku, dan komunitas menulis menjadi ruang alternatif untuk menghidupkan kembali minat membaca. Di komunitas ini, membaca tidak lagi terasa sebagai kewajiban, tetapi sebagai pengalaman berbagi dan bertumbuh bersama.
Peran dosen juga sangat menentukan. Dosen yang mendorong diskusi berbasis bacaan, bukan sekadar hafalan, akan menumbuhkan kesadaran literasi. Ketika mahasiswa merasa bacaannya dihargai dan didiskusikan, mereka lebih termotivasi untuk membaca secara serius.
Pada akhirnya, literasi mahasiswa bukan hanya soal jumlah buku yang dibaca, tetapi kualitas pemahaman yang dihasilkan. Di tengah distraksi digital, mahasiswa perlu menemukan kembali makna membaca sebagai proses berpikir. Literasi yang kuat akan membekali mahasiswa dengan kemampuan memahami kompleksitas dunia, bukan sekadar lulus dari mata kuliah.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.
Belum ada komentar, jadilah yang pertama mengomentari artikel ini