Mahasiswa Dan Budaya Diskusi: Antara Keberanian Berpendapat Dan Takut Salah


Faturahman
Faturahman
Mahasiswa Dan Budaya Diskusi: Antara Keberanian Berpendapat Dan Takut Salah
Mahasiswa Dan Budaya Diskusi: Antara Keberanian Berpendapat Dan Takut Salah

Budaya diskusi merupakan salah satu indikator penting kualitas pendidikan tinggi. Kampus idealnya menjadi ruang aman bagi mahasiswa untuk bertukar gagasan, menguji argumen, dan memperkaya sudut pandang. Namun, dalam praktiknya, budaya diskusi di kalangan mahasiswa Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari rasa takut salah, dominasi suara tertentu, hingga minimnya kebiasaan berpikir kritis.

Di ruang kelas, diskusi sering kali berjalan satu arah. Dosen bertanya, mahasiswa diam, lalu beberapa orang yang sama kembali mendominasi percakapan. Banyak mahasiswa enggan berpendapat karena khawatir jawabannya dianggap keliru atau kurang pintar. Budaya akademik yang terlalu menekankan jawaban benar-salah membuat diskusi kehilangan esensi sebagai proses eksplorasi gagasan.

Lingkungan kos dan pergaulan mahasiswa justru sering menjadi ruang diskusi yang lebih cair. Obrolan santai di malam hari, debat ringan saat nongkrong, atau diskusi spontan tentang isu sosial dan politik menunjukkan bahwa mahasiswa sebenarnya memiliki ketertarikan untuk berdiskusi. Sayangnya, diskusi informal ini tidak selalu terbawa ke ruang akademik yang lebih struktural.

Mahasiswa aktif organisasi umumnya lebih terbiasa berdiskusi karena sering terlibat dalam rapat, forum, dan pengambilan keputusan bersama. Mereka belajar menyampaikan pendapat, menerima kritik, dan membangun argumen. Sementara itu, mahasiswa yang lebih fokus akademik sering memiliki pemikiran mendalam, tetapi kurang percaya diri untuk mengungkapkannya di ruang publik. Keduanya memiliki potensi yang sama, tetapi membutuhkan ruang yang inklusif.

Teknologi turut memengaruhi budaya diskusi mahasiswa. Forum daring, grup diskusi, dan kolom komentar membuka ruang partisipasi yang lebih luas. Namun, diskusi digital juga rawan menjadi dangkal, emosional, dan kurang berbasis data. Tantangannya adalah bagaimana mahasiswa membawa etika, kedalaman berpikir, dan sikap saling menghargai ke ruang diskusi digital.

Peran dosen sangat krusial dalam membangun budaya diskusi yang sehat. Dosen yang menghargai proses berpikir, bukan hanya hasil akhir, akan mendorong mahasiswa lebih berani berbicara. Ketika kesalahan diposisikan sebagai bagian dari pembelajaran, mahasiswa akan lebih terbuka untuk berpartisipasi. Diskusi seharusnya menjadi ruang belajar bersama, bukan ajang penilaian semata.

Budaya diskusi juga berkaitan erat dengan pembentukan karakter. Melalui diskusi, mahasiswa belajar mendengar, memahami perbedaan, dan menyampaikan pendapat secara beradab. Keterampilan ini sangat penting dalam kehidupan profesional dan sosial, terutama di masyarakat yang plural dan dinamis.

Pada akhirnya, budaya diskusi bukan hanya soal berbicara, tetapi tentang keberanian berpikir dan kerendahan hati untuk belajar. Kampus yang hidup secara intelektual adalah kampus yang memberi ruang dialog terbuka, kritis, dan saling menghargai. Mahasiswa yang terbiasa berdiskusi akan tumbuh menjadi individu yang reflektif, adaptif, dan siap menghadapi kompleksitas dunia nyata.


RajaBacklink.com: Jasa Backlink Murah Berkualitas - Jasa Promosi Website Banner Bersponsor

Tentang Penulis


Faturahman

Faturahman

Guest - Universitas Terbuka

Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.

Lagi Tranding


Rekomendasi Lainnya