Literasi Yang Berubah: Cara Mahasiswa Indonesia Membaca, Menulis, Dan Berpikir Di Era Digital


Faturahman
Faturahman
Literasi Yang Berubah: Cara Mahasiswa Indonesia Membaca, Menulis, Dan Berpikir Di Era Digital
Literasi Yang Berubah: Cara Mahasiswa Indonesia Membaca, Menulis, Dan Berpikir Di Era Digital

Dunia literasi mahasiswa Indonesia mengalami perubahan besar dalam satu dekade terakhir. Jika dahulu aktivitas akademik identik dengan buku tebal, catatan tangan, dan perpustakaan yang sunyi, kini literasi hadir dalam bentuk yang lebih beragam. Mahasiswa membaca melalui layar, menulis dengan bantuan teknologi, dan membangun pemahaman dari berbagai sumber digital.

Perubahan ini membawa kemudahan sekaligus tantangan. Akses informasi menjadi sangat luas. Mahasiswa dapat menemukan jurnal internasional, e-book, dan artikel ilmiah hanya dengan beberapa klik. Proses belajar menjadi lebih cepat dan fleksibel, tidak lagi terikat ruang dan waktu.

Namun, kemudahan ini juga memengaruhi cara mahasiswa membaca. Banyak yang terbiasa membaca cepat dan selektif, mencari poin penting tanpa mendalami keseluruhan teks. Pola ini efektif untuk efisiensi, tetapi berisiko mengurangi kedalaman pemahaman dan kemampuan berpikir kritis.

Menulis pun mengalami transformasi. Tugas kuliah kini lebih sering diketik daripada ditulis tangan. Mahasiswa terbiasa menyusun esai dengan bantuan aplikasi pengolah kata, pemeriksa tata bahasa, dan referensi daring. Di satu sisi, kualitas teknis tulisan meningkat. Di sisi lain, proses berpikir kadang terganggu oleh kecenderungan menyalin atau terlalu bergantung pada sumber instan.

Diskusi akademik juga berpindah ruang. Forum daring, grup pesan instan, dan platform pembelajaran digital menjadi arena bertukar gagasan. Mahasiswa yang sebelumnya pasif di kelas fisik sering kali lebih berani berpendapat secara daring. Interaksi menjadi lebih inklusif, meski tidak selalu mendalam.

Budaya membaca di kalangan mahasiswa pun berubah. Buku cetak tidak sepenuhnya ditinggalkan, tetapi posisinya bergeser. Banyak mahasiswa memilih membaca ringkasan, ulasan, atau konten edukatif singkat. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang ketahanan membaca panjang dan kesabaran intelektual.

Dosen menghadapi tantangan baru dalam menumbuhkan literasi kritis. Tugas tidak lagi cukup meminta mahasiswa “menjelaskan”, tetapi harus mendorong analisis, refleksi, dan sintesis. Mahasiswa diajak tidak hanya mengumpulkan informasi, tetapi juga menilai validitas dan relevansinya.

Menariknya, sebagian mahasiswa mulai menyadari pentingnya kembali pada literasi mendalam. Mereka membangun kebiasaan membaca buku fisik, menulis jurnal pribadi, atau mengikuti klub baca. Aktivitas ini menjadi cara melatih fokus dan memperkaya perspektif di tengah arus informasi yang cepat.

Literasi digital juga menuntut etika. Mahasiswa perlu memahami plagiarisme, hak cipta, dan tanggung jawab akademik. Kemampuan mengutip dengan benar dan menghargai karya orang lain menjadi bagian penting dari proses belajar.

Pada akhirnya, literasi mahasiswa di era digital bukan soal memilih antara buku atau layar. Ia adalah kemampuan beradaptasi, memilah informasi, dan berpikir reflektif. Mahasiswa yang mampu memadukan kecepatan teknologi dengan kedalaman berpikir akan memiliki bekal intelektual yang kuat untuk menghadapi tantangan masa depan.


RajaBacklink.com: Jasa Backlink Murah Berkualitas - Jasa Promosi Website Banner Bersponsor

Tentang Penulis


Faturahman

Faturahman

Guest - Universitas Terbuka

Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.

Lagi Tranding


Rekomendasi Lainnya