Gaya hidup mahasiswa Indonesia mencerminkan persimpangan antara keterbatasan ekonomi, pengaruh tren global, dan pencarian identitas diri. Masa kuliah menjadi periode eksplorasi, di mana mahasiswa mencoba berbagai peran, selera, dan cara hidup sebelum menemukan jati diri yang lebih stabil.
Bagi sebagian mahasiswa, hidup sederhana adalah pilihan sekaligus keharusan. Anggaran bulanan yang terbatas membuat mereka terbiasa memasak sendiri, berburu diskon, dan menahan keinginan konsumtif. Kesederhanaan ini membentuk sikap mandiri dan realistis terhadap uang, sesuatu yang sering baru disadari manfaatnya setelah lulus.
Namun, tekanan gaya hidup juga tidak bisa diabaikan. Media sosial menampilkan standar hidup mahasiswa yang tampak ideal: nongkrong di kafe estetik, memakai barang bermerek, atau liburan singkat di sela kuliah. Perbandingan sosial ini memicu dilema, terutama bagi mahasiswa yang kondisi ekonominya jauh berbeda.
Lingkungan pergaulan sangat memengaruhi gaya hidup mahasiswa. Teman kos, organisasi, dan komunitas kampus membentuk kebiasaan baru, mulai dari cara berpakaian hingga pola konsumsi. Mahasiswa belajar menyesuaikan diri agar diterima, terkadang dengan mengorbankan kenyamanan pribadi.
Di sisi lain, gaya hidup juga menjadi medium ekspresi diri. Mahasiswa mulai berani menunjukkan minat dan identitas melalui musik, fesyen, aktivitas komunitas, atau pilihan gaya hidup tertentu. Kampus menjadi ruang yang relatif aman untuk bereksperimen, mencoba hal baru, dan menemukan apa yang benar-benar sesuai dengan diri sendiri.
Gaya hidup sehat mulai mendapat perhatian, meskipun belum merata. Sebagian mahasiswa mulai peduli pada olahraga, pola makan, dan kesehatan mental. Namun, keterbatasan waktu dan biaya sering menjadi penghambat. Pilihan hidup sehat sering kalah oleh jadwal padat dan makanan cepat saji yang murah.
Kehidupan mahasiswa juga diwarnai kontradiksi. Di satu sisi ingin hidup hemat, di sisi lain ingin menikmati masa muda. Di satu waktu merasa nyaman dengan kesederhanaan, di waktu lain merasa tertinggal. Kontradiksi ini wajar dan menjadi bagian dari proses pendewasaan.
Pada akhirnya, gaya hidup mahasiswa bukan sekadar soal penampilan atau konsumsi, melainkan proses memahami diri sendiri. Dari berbagai pilihan dan kesalahan, mahasiswa belajar menentukan nilai yang ingin dipegang. Masa kuliah menjadi laboratorium kehidupan, tempat mahasiswa merangkai identitas sebelum melangkah ke fase dewasa yang lebih kompleks.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.
Belum ada komentar, jadilah yang pertama mengomentari artikel ini