Cara mahasiswa Indonesia belajar mengalami pergeseran signifikan. Jika dahulu keberhasilan akademik sering diukur dari kemampuan menghafal materi dan mengerjakan ujian, kini proses belajar mulai bergerak ke arah pemaknaan. Mahasiswa tidak hanya dituntut tahu, tetapi juga memahami dan mengaitkan pengetahuan dengan konteks nyata.
Perubahan ini tidak terjadi secara instan. Banyak mahasiswa masih terbiasa dengan pola belajar lama yang berorientasi pada nilai. Sistem pendidikan sebelumnya membentuk kebiasaan belajar menjelang ujian, menghafal ringkasan, lalu melupakan materi setelahnya. Pola ini terbawa hingga bangku kuliah.
Namun, tuntutan akademik di perguruan tinggi memaksa mahasiswa beradaptasi. Tugas berbasis analisis, studi kasus, dan presentasi kelompok menuntut pemahaman yang lebih dalam. Mahasiswa mulai menyadari bahwa hafalan semata tidak cukup untuk menjawab persoalan kompleks.
Setiap mahasiswa mengembangkan gaya belajar yang berbeda. Ada yang lebih nyaman belajar mandiri melalui membaca dan mencatat, ada pula yang memahami materi melalui diskusi. Sebagian mahasiswa justru lebih mudah belajar lewat praktik langsung, seperti proyek lapangan atau simulasi.
Teknologi turut membentuk gaya belajar baru. Video pembelajaran, podcast edukatif, dan platform diskusi daring menjadi alternatif selain buku teks. Mahasiswa dapat mengulang materi sesuai kebutuhan dan belajar dengan tempo masing-masing. Fleksibilitas ini membantu mereka yang kesulitan mengikuti ritme kelas konvensional.
Namun, kebebasan ini juga membawa tantangan. Tidak semua mahasiswa mampu mengatur diri. Tanpa disiplin, akses belajar yang luas justru membuat fokus terpecah. Mahasiswa sering berpindah dari satu sumber ke sumber lain tanpa mendalami satu topik secara utuh.
Lingkungan pertemanan berpengaruh besar terhadap gaya belajar. Kelompok belajar yang sehat mendorong diskusi kritis dan saling membantu. Sebaliknya, lingkungan yang hanya berorientasi pada hasil dapat menumbuhkan kebiasaan instan seperti saling berbagi jawaban tanpa proses belajar.
Peran dosen tetap krusial. Dosen yang mendorong mahasiswa bertanya, berpendapat, dan mengaitkan teori dengan realitas membantu proses pemaknaan. Ketika mahasiswa merasa aman untuk salah dan berdiskusi, mereka lebih berani mengeksplorasi ide.
Menariknya, banyak mahasiswa baru menyadari gaya belajar efektif justru setelah mengalami kegagalan. Nilai yang tidak sesuai harapan menjadi titik refleksi. Dari situ, mereka mulai bereksperimen dengan cara belajar yang lebih sesuai dengan karakter pribadi.
Belajar juga tidak selalu terjadi di ruang kelas. Pengalaman organisasi, kerja sosial, dan aktivitas kampus lainnya sering memberi pembelajaran yang lebih membekas. Mahasiswa belajar mengelola waktu, berkomunikasi, dan menyelesaikan konflik secara nyata.
Pada akhirnya, gaya belajar mahasiswa Indonesia semakin beragam dan personal. Proses belajar tidak lagi seragam, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi masing-masing. Ketika mahasiswa mampu memahami cara belajarnya sendiri, pendidikan menjadi pengalaman yang lebih bermakna dan berkelanjutan.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.
Belum ada komentar, jadilah yang pertama mengomentari artikel ini