Etika akademik merupakan seperangkat nilai dan prinsip yang mengatur perilaku mahasiswa dalam kegiatan akademik. Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan integritas menjadi fondasi utama dalam proses belajar di perguruan tinggi. Namun, dalam praktiknya, pelanggaran etika akademik seperti mencontek dan plagiarisme masih menjadi persoalan yang kerap muncul di lingkungan kampus.
Budaya mencontek sering kali dipahami secara sederhana sebagai tindakan curang saat ujian. Padahal, pelanggaran etika akademik memiliki cakupan yang lebih luas, termasuk plagiarisme dalam penulisan tugas, pemalsuan data, titip absen, hingga kerja sama tidak sah dalam pengerjaan tugas individu. Praktik-praktik ini bertentangan dengan tujuan pendidikan tinggi yang menekankan pembentukan intelektual dan karakter.
Salah satu faktor yang mendorong terjadinya pelanggaran etika akademik adalah tekanan akademik. Target nilai tinggi, tuntutan lulus tepat waktu, serta persaingan antarmahasiswa membuat sebagian mahasiswa memilih jalan pintas. Dalam kondisi tertekan, kejujuran sering kali dikorbankan demi hasil instan, tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang.
Selain itu, kurangnya pemahaman tentang etika akademik juga menjadi penyebab. Tidak semua mahasiswa benar-benar memahami apa yang dimaksud dengan plagiarisme atau batasan kerja sama yang diperbolehkan. Dalam beberapa kasus, mahasiswa melakukan pelanggaran bukan karena niat buruk, tetapi karena ketidaktahuan dan kebiasaan yang terbentuk sejak jenjang pendidikan sebelumnya.
Lingkungan akademik juga berperan dalam membentuk perilaku mahasiswa. Jika budaya mencontek dianggap wajar dan tidak mendapatkan sanksi tegas, praktik tersebut cenderung terus berulang. Sebaliknya, kampus yang menanamkan nilai integritas secara konsisten dan memberikan teladan akan mendorong mahasiswa untuk bersikap jujur.
Dampak pelanggaran etika akademik tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga berdampak pada pembentukan karakter. Mahasiswa yang terbiasa mencontek akan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan memecahkan masalah secara mandiri. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat terbawa ke dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat.
Menumbuhkan etika akademik membutuhkan peran semua pihak. Perguruan tinggi perlu memberikan edukasi yang jelas tentang standar etika akademik sejak awal perkuliahan. Dosen juga memiliki peran penting dalam menanamkan nilai kejujuran melalui metode pembelajaran dan penilaian yang adil serta transparan.
Mahasiswa sendiri perlu menyadari bahwa proses belajar jauh lebih penting daripada hasil semata. Nilai tinggi yang diperoleh melalui cara tidak jujur tidak mencerminkan kemampuan sebenarnya. Dengan menjunjung tinggi etika akademik, mahasiswa tidak hanya menjaga nama baik diri sendiri dan institusi, tetapi juga membangun fondasi karakter yang kuat.
Pada akhirnya, etika akademik adalah cerminan kualitas pendidikan tinggi. Kampus yang menjunjung tinggi kejujuran akan melahirkan lulusan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas. Dalam konteks ini, melawan budaya mencontek bukan sekadar soal aturan, melainkan tentang membangun masa depan yang lebih bermartabat.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.
Belum ada komentar, jadilah yang pertama mengomentari artikel ini