Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kampus, ada sekelompok mahasiswa yang jarang terlihat menonjol. Mereka bukan mahasiswa berprestasi yang sering naik podium, bukan pula aktivis organisasi yang sibuk rapat hingga malam. Mereka hadir di kelas, mengerjakan tugas, dan pulang—namun sering merasa tertinggal dalam perjalanan akademik dan sosialnya sendiri.
Perasaan tertinggal muncul dalam berbagai bentuk. Ada mahasiswa yang merasa lambat memahami materi dibanding teman-temannya. Ada pula yang merasa kurang berani bersuara, tidak punya jaringan luas, atau belum menemukan minat yang jelas. Di kampus yang kompetitif, perbandingan sosial menjadi sumber tekanan yang tak kasatmata.
Media sosial memperparah kondisi ini. Linimasa dipenuhi pencapaian teman sebaya: lomba, beasiswa, magang prestisius, atau bisnis yang mulai berkembang. Mahasiswa yang hidupnya terasa biasa-biasa saja mulai mempertanyakan nilai diri mereka. Padahal, yang terlihat di media sosial sering kali hanya potongan terbaik dari realitas.
Banyak mahasiswa memilih diam menghadapi perasaan ini. Mereka tetap menjalani rutinitas, tetapi dengan beban mental yang perlahan menumpuk. Rasa malu, takut dianggap tidak kompeten, atau khawatir mengecewakan keluarga membuat mereka enggan bercerita. Kesunyian ini sering tidak terdeteksi oleh lingkungan sekitar.
Ironisnya, mahasiswa yang merasa tertinggal sering justru sangat bertanggung jawab. Mereka hadir tepat waktu, menyelesaikan tugas, dan berusaha memenuhi kewajiban akademik. Namun, karena tidak tampil menonjol, usaha mereka jarang diapresiasi. Kampus cenderung memberi panggung pada yang terlihat aktif, bukan pada mereka yang berjuang secara diam-diam.
Proses akademik yang panjang membuat sebagian mahasiswa merasa kehilangan arah. Mereka menjalani kuliah tanpa benar-benar yakin tujuan akhirnya. Ketidakpastian ini memicu kelelahan emosional, terutama ketika memasuki tahun-tahun akhir studi. Pertanyaan tentang masa depan menjadi semakin nyata dan menekan.
Namun, berada di fase “tertinggal” bukan berarti gagal. Banyak mahasiswa menemukan ritme dan jalannya sendiri setelah melewati fase kebingungan ini. Mereka belajar bahwa perkembangan hidup tidak selalu linear. Setiap orang memiliki waktu bertumbuh yang berbeda, meskipun berada di lingkungan yang sama.
Peran kampus dan lingkungan pertemanan sangat penting dalam konteks ini. Ruang dialog yang aman, bimbingan yang empatik, dan budaya saling mendukung dapat membantu mahasiswa keluar dari rasa terisolasi. Validasi bahwa perjuangan diam juga bernilai menjadi hal yang sangat berarti.
Pada akhirnya, kehidupan mahasiswa tidak selalu tentang siapa yang paling cepat atau paling menonjol. Ada proses panjang yang sunyi, penuh keraguan, tetapi tetap bermakna. Mahasiswa yang merasa tertinggal hari ini mungkin sedang mengumpulkan kekuatan untuk melangkah dengan cara mereka sendiri.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.
Belum ada komentar, jadilah yang pertama mengomentari artikel ini