Bahasa adalah alat utama mahasiswa untuk berpikir, berinteraksi, dan membangun identitas. Di lingkungan kampus Indonesia yang beragam, mahasiswa terus berpindah antara berbagai ragam bahasa—formal dan informal, lisan dan tulisan, lokal dan global. Pergeseran ini mencerminkan dinamika sosial dan intelektual yang mereka alami.
Di ruang akademik, mahasiswa dituntut menggunakan bahasa yang formal, sistematis, dan berbasis argumen. Penulisan makalah, presentasi, dan diskusi ilmiah mengharuskan ketepatan istilah dan struktur berpikir yang jelas. Bagi sebagian mahasiswa, terutama dari daerah, tuntutan ini menjadi tantangan tersendiri.
Perbedaan latar belakang pendidikan membuat kemampuan berbahasa akademik tidak merata. Ada mahasiswa yang sejak awal terbiasa menulis dan berdiskusi, ada pula yang harus belajar dari nol. Ketimpangan ini sering tersembunyi, tetapi berpengaruh besar pada kepercayaan diri dan performa akademik.
Di luar kelas, bahasa mahasiswa berubah drastis. Bahasa gaul, singkatan, dan campuran bahasa daerah atau asing menjadi alat keakraban. Di ruang ini, bahasa berfungsi membangun kedekatan dan identitas kelompok. Peralihan cepat antara bahasa formal dan santai menunjukkan fleksibilitas komunikasi mahasiswa.
Media sosial mempercepat perubahan bahasa mahasiswa. Unggahan singkat, meme, dan komentar membentuk gaya komunikasi yang ringkas dan ekspresif. Namun, kebiasaan ini terkadang terbawa ke ruang akademik, menyebabkan tulisan kurang mendalam atau argumen tidak terstruktur dengan baik.
Mahasiswa perantau sering mengalami penyesuaian bahasa yang kompleks. Mereka membawa logat dan istilah daerah ke lingkungan baru. Proses adaptasi ini bisa memperkaya interaksi, tetapi juga memicu rasa minder. Seiring waktu, banyak mahasiswa memadukan berbagai unsur bahasa sebagai bagian dari identitas baru.
Bahasa juga berkaitan dengan keberanian berbicara. Mahasiswa yang merasa kurang fasih sering memilih diam, meskipun memiliki gagasan bagus. Di sisi lain, mahasiswa yang percaya diri secara verbal cenderung lebih terlihat aktif. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa dapat memengaruhi partisipasi akademik.
Peran dosen penting dalam membentuk iklim komunikasi yang sehat. Ketika dosen menghargai proses dan tidak menghakimi kesalahan bahasa, mahasiswa lebih berani berbicara. Bahasa seharusnya menjadi jembatan berpikir, bukan penghalang untuk berpartisipasi.
Penguasaan bahasa akademik adalah proses jangka panjang. Membaca, menulis, dan berdiskusi secara konsisten membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan ini. Kampus yang menyediakan ruang latihan—seperti forum diskusi, klinik menulis, atau presentasi terbuka—akan membantu mahasiswa tumbuh secara komunikatif.
Pada akhirnya, bahasa mahasiswa terus berubah seiring pengalaman hidup. Dari ruang kelas hingga tongkrongan, dari makalah hingga pesan singkat, bahasa menjadi cermin perjalanan intelektual dan sosial mereka. Kemampuan menyesuaikan bahasa dengan konteks adalah keterampilan penting yang akan terus berguna di luar kampus.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.
Belum ada komentar, jadilah yang pertama mengomentari artikel ini