Dosen memegang peran sentral dalam perjalanan akademik mahasiswa. Namun, pengalaman mahasiswa Indonesia menunjukkan bahwa tidak semua dosen hadir dengan gaya mengajar yang sama. Ada dosen inspiratif yang membuka cakrawala berpikir, ada pula dosen yang sulit dipahami bahkan menimbulkan ketakutan. Perbedaan ini membentuk dinamika unik dalam kehidupan kampus.
Sebagian mahasiswa beruntung bertemu dosen yang komunikatif dan terbuka. Dosen tipe ini mendorong diskusi, menghargai pendapat mahasiswa, dan menjadikan kelas sebagai ruang dialog. Mahasiswa merasa lebih berani bertanya, berpikir kritis, dan menikmati proses belajar. Kehadiran dosen semacam ini sering meninggalkan kesan mendalam hingga setelah lulus.
Namun, tidak sedikit mahasiswa menghadapi dosen dengan gaya mengajar satu arah. Materi disampaikan secara monoton, minim interaksi, dan sering kali sulit dipahami. Dalam situasi ini, mahasiswa cenderung pasif dan fokus hanya pada kelulusan, bukan pemahaman. Proses belajar berubah menjadi rutinitas administratif.
Istilah “dosen killer” juga masih hidup di kalangan mahasiswa. Julukan ini merujuk pada dosen yang dikenal tegas berlebihan, sulit memberi nilai, atau kurang empati terhadap kondisi mahasiswa. Ketakutan membuat mahasiswa enggan bertanya, bahkan memilih diam meski tidak memahami materi.
Perbedaan generasi turut memengaruhi relasi dosen dan mahasiswa. Mahasiswa generasi digital terbiasa dengan komunikasi cepat dan visual, sementara sebagian dosen masih mengandalkan metode konvensional. Ketimpangan ini kadang menimbulkan kesalahpahaman dan jarak emosional di ruang kelas.
Meski demikian, mahasiswa tidak sepenuhnya pasif. Banyak yang mengembangkan strategi bertahan, seperti belajar mandiri, membentuk kelompok diskusi, atau mencari sumber lain di luar kelas. Mahasiswa belajar menyesuaikan diri dengan berbagai karakter dosen sebagai bagian dari proses pendewasaan.
Peran dosen sejatinya tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga pembentuk iklim akademik. Cara dosen bersikap, memberi umpan balik, dan memperlakukan mahasiswa berdampak besar pada motivasi belajar. Dosen yang menghargai proses akan melahirkan mahasiswa yang lebih percaya diri.
Di sisi lain, mahasiswa juga belajar bahwa tidak semua sistem ideal. Menghadapi dosen dengan gaya mengajar sulit mengajarkan kesabaran, komunikasi, dan kemampuan beradaptasi. Pengalaman ini menjadi bekal penting ketika mahasiswa kelak masuk dunia kerja yang penuh keragaman karakter.
Kampus memiliki peran dalam menjembatani perbedaan ini. Pelatihan pedagogi, evaluasi mengajar, dan ruang dialog antara dosen dan mahasiswa dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Pendidikan tinggi yang sehat membutuhkan relasi dua arah yang saling menghormati.
Pada akhirnya, pengalaman menghadapi dosen dengan beragam gaya mengajar membentuk karakter mahasiswa. Dari ruang kelas inilah mahasiswa belajar bukan hanya ilmu, tetapi juga cara menghadapi otoritas, perbedaan, dan realitas dunia yang tidak selalu ideal.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.
Belum ada komentar, jadilah yang pertama mengomentari artikel ini